• 18

    Jan

    Katanya Suka ...

    Postingan 1,5 bulan lalu: “Hujan ini selalu mengingatkanku pada sesuatu. Buatku, waktu seolah berhenti setiap kali dia datang, mengajak kita untuk berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk keduniawian. Jika hujan turun, mendekatlah ke jendela, lemparkan pikiran apa saja ke sana.” Postingan hari ini: “Duh, ini ujan kapan berenti sih? Jadi susah semuanya. Gak bisa ngapa-ngapain. Mana depan komplek mulai banjir pula. Repot deh, pulang jadi malem-malem terus. Rrrr…” Postingan puluhan tahun silam: You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it. You say you love sun, but you seek shade when it is shining. You say you love wind, but when it comes you close your window. So that’s why I’m scared when you say you love me. (Bob Marley)
  • 11

    Jan

    Kita Tak Sama di Pelat Nomor Kendaraan

    Grogol-Cawang kecepatan 20-30 km/jam\\\”. Jarum penunjuk di speedometer saya bahkan jarang mencapai ke angka 20. Tidak apa-apa. Sudah habis waktu kita untuk mengeluhkan kemacetan di Jakarta, apalagi pada Jumat malam, bukan? Yang menyebalkan adalah, sedang asyik-asyiknya menikmati \\\”kebersamaan\\\” sesama pengemudi, ada saja sirine dari arah belakang, persisnya di lajur keempat paling kiri, alias di bahu jalan. Sirine itu buat saya terdengar arogan sekali. Terjemahan bebas suara itu adalah: \\\”Minggir … Minggir … Gue mau lewat!\\\” Sirine itu bukan dari ambulans, tapi mobil-mobil berpelat (aparat) negara. Dan kita tak pernah tahu, apakah mereka ada di situ sungguh-sungguh dalam keadaan tergesa-gesa untuk urusan negara — perang, misalnya,
  • 2

    Jan

    Nina

    Pukul 16.45 WIB. Kuambil kaca, kusisir rambutku yang makin beruban, pelan-pelan, hati-hati, bukan karena aku berharap sisiranku kali ini akan membuatku tampan, tapi kaca ini memang cuma seukuran muka. Aku tak butuh kaca ukuran sebadan karena aku laki-laki, dan kaca yang besar harganya lebih mahal. Malam ini aku akan bertemu Nina. Mantan istriku. Aku tak pernah menyangka ia memilih hari ini, hari terakhir tahun ini, untuk bertemu, di sebuah restoran cepat saji 24 jam di sebuah pusat belanja di tengah kota. Sembilan jam lalu sebuah pesan singkat masuk. Deg-degan aku ketika membaca nama pengirimnya. “Nanti siang aku ke Bandung, Yud. Kurasa sekarang aku sudah siap untuk menemuimu. Tunggu aku.” * Setengah jam kemudian aku mulai menuruni Jln. Setiabudi. Satu jam dari rum
  • 6

    Feb

    Uban

    “Idih, kamu kok ubanan sih?” “Memangnya kenapa?” “Kayak orangtua aja.” “Memang sudah tua kan?” “Belum lah. Buktinya belum kawin juga.” “Lho, memangnya ukuran kawin itu umur?” “Ya gak juga sih. Tapi bener, kapan sih kamu mau kawin?” “Nunggu kamu cerai.” “Huss. Nyumpahin aku ya?” “Abis, aku cintanya sama kamu.” “Kok serius amat?” “Memangnya kamu tidak?” “Aku harus gimana, dong?” “Dibilangin. Ceraik...
  • 17

    Dec

    Menulis dan Istriku

    Tulisan ini tak kelar-kelar. Mandek di alinea kelima. Tiba-tiba aku tak tahu harus menulis apa lagi, apa yang kira-kira luput dibahas oleh penulis-penulis lain dalam ratusan artikel yang sudah lebih dulu terpublikasi di mana-mana itu, termasuk oleh blogger-blogger yang bebas, atau lewat time line pendek para seleb tweet. Masalah yang satu ini memang tidak kelar-kelar, walaupun sempat dikira akan selesai beberapa bulan lalu. Ternyata tidak, dan masalahnya kembali lagi seperti ketika masalah itu mulai dipermasalahkan oleh seluruh masyarakat Indonesia beberapa belas bulan yang lalu. Orang-orang kita memang lucu, sekaligus menyebalkan. Masalah ini menjadi sangat menjengkelkan, juga menyedihkan. Tak ada yang baru, tapi seakan-akan baru, atau dibuat seolah-olah baru. Sialnya, aku harus menuli
  • 1

    Dec

    Aku Jatuh Cinta

    Aku jatuh cinta pada perempuan yang tak kuingat lagi namanya, telah memudar bayangan wajahnya, lenyap tak berbekas jejaknya, entah di mana pernah bertemu dan kapan, dan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Aku cuma tahu, aku jatuh cinta padanya.
  • 30

    Aug

    Idul Fitri atawa Lebaran

    Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya, ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa selama satu bulan. Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya. Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita yang langsung kepada
  • 24

    Aug

    Selalu Begini Setiap Mau Lebaran

    Katanya, puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang berlebihan. Tapi selalu begini setiap petang: meja makan penuh dengan aneka rupa makanan, yang bahkan tak pernah ada di hari-hari lainnya. Katanya, puasa adalah menahan lapar dan haus agar sesekali merasakan apa yang biasa dirasakan kaum miskin dan susah. Tapi, selalu begini setiap beduk magrib dipukul: mulut tak henti-hentinya mengunyah, perut terus diforsir untuk mencerna. Katanya, hari-hari terakhir puasa adalah waktu paling istimewa untuk berdiam diri di rumah-rumah Tuhan, melarutkan diri dalam keasyikan mengingat-Nya, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Tapi, selalu begini setiap menjelang Lebaran: jalanan macet di mana-mana, orang berdesak-desakan di pasar, berebut masuk pertokoan, mendekam sampai malam, menguras pikira
  • 5

    Jul

    Hujan Salju

    Hujan salju yang sudah turun di bulan Oktober Memutihkan jalanan kumal di depan rumah Mengubur kesombongan yang berserakan di tanah Nyalakan pemanasnya Musim sudah berganti
  • 28

    Jun

    Menagih Janji Sehidup Semati

    “Apakah aku memperlakukanmu dengan baik?” “Perlakuan darimu adalah yang terbaik yang pernah kudapati dari orang-orang yang kukenal.” “Bisa di sisiku selalu?” “Aku masih di sini bukan?” “Walau bintangku tak terang?” “Kamu tetap bintangku.” “Walau aku jatuh miskin nanti?” “Asalkan kamu tidak menyerah.” “Walau aku sulit naik jabatan?” “Yang penting kamu tidak korupsi.” “Walau nanti aku tak bisa memberimu keturunan?” “Kesetiaanmu lebih kuharapkan.” “Walau aku nanti jelek?” “Wajahku juga biasa-biasa saja toh.” “Walau aku akan jadi botak sebelum umur 50?” “Sudah, sudah. Mengerikan sekali membayangkan itu semua.&#
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive