Pada Suatu Ketika

21 July 2008

Kebab

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 15:26 and

Sudah ingin mencicipinya lagi. Hm…

kebab2.jpg

20 March 2008

Kupu-kupu di Langit-langit Rumah

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 12:26 and

 butterfly.jpg

Senin siang. Aku duduk-duduk di bangku ruang depan. Seekor kupu-kupu hitam-putih melayang-layang di depan pintu.

“Selamat siang,” ia menyapaku.

Aku malas menjawab, sedang malas berbasa-basi. Tapi kugerakkan juga sedikit letak bibirku biarpun terpaksa.

“Aku suka langit-langit rumahmu,” kupu-kupu hitam-putih bicara lagi.

“Terima kasih.” Kata-kata pertamaku muncul.

Kupu-kupu hitam-putih menunggu kata-kata yang lain, tapi tak mendapatkan apa-apa. Ia pun berbalik badan, mempercepat kepakan-kepakan sayapnya, lalu meninggalkanku.

**

Senin siang berikutnya. Aku selalu suka duduk-duduk di bangku ruang depan. Seekor kupu-kupu merah-biru muncul di depan pintu.

“Selamat siang,” ia menyapaku.

“Selamat siang,” aku menjawab.

“Aku suka langit-langit rumahmu,” ia melanjutkan.

“Kenapa?” aku sedikit terhenyak, ingat sesuatu.

“Boleh aku ke sana?” Ini bukan jawaban pertanyaan tadi.

“Sebaiknya jangan. Aku tidak mau ada keributan.”

Kupu-kupu merah-biru lalu pergi. Matanya merah, hatinya membiru, kurasa.

**

Senin siang berikutnya lagi. Aku telat sepuluh menit dari jadwalku duduk-duduk di bangku ruang depan. Belum sempat tembakau kubakar, dari atas kepalaku terdengar suara:

“Selamat siang. Aku suka langit-langit rumahmu dan tak kuasa untuk tidak singgah di sini.” Seekor kupu-kupu kuning-hijau kulihat menggelantung di sana.

“Sebaiknya kamu lekas pergi.” Aku mengatakannya sambil bangkit dari kursi, dan membukakan pintu. Kupu-kupu kuning-hijau tak membantah, melayang turun dan beranjak.

**

Senin siang berikutnya lagi. Aku tidak mungkin duduk-duduk di bangku ruang depan. Ada ribuan kupu-kupu hinggap di langit-langit rumahku. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, coklat, oranye, ungu, abu-abu.

***

14 March 2008

Senja Gumira Aji Darma

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 18:08 and

Saya jadi sedikit iri pada Seno Gumira Ajidarma. Bagi penyuka sastra, orang ini sudah terlanjur identik dengan “senja”. Dari begitu seringnya ia membawa-bawa senja pada karya-karyanya, tidak bisa tidak, dia pasti pernah punya “masalah gawat” dengan mahluk yang satu itu.

Dari beberapa cerpen dia yang menghadirkan senja -– yang paling terkenal tentu saja “Sepotong Senja Buat Pacarku” –, saya sering kali tidak menemukan gambaran Seno tentang itu di dalam kenyataan. Mungkin dikarenakan sastra adalah subyektif, maka ia bisa jadi terdengar atau terasa dramatis atau hiperbola. Kalau anak muda sekarang bilang: gak gitu banget kaleee..

Tapi apa boleh buat, kalau sedang ingin pamer keindahan, senja memang menakjubkan, terlebih kalau datangnya “tiba-tiba”, seperti orang mencolek pundak kita dan berkata, “Hei, lihat, ada pelangi!” Maka kita, yang sebelumnya hanya asyik menatap ke depan, tergerak untuk mendongak ke atas, dan rasanya tidak seorang pun tidak takjub pada pelangi, begitu pula senja.

Kantor saya ternyata bisa tiba-tiba mencolek pundak saya dan berujar, “Sst, itu senja yang keemasan datang.” Saya pernah “norak” dan menujuk-nunjukkan itu pada Wicak. Kenapa Wicak, karena dia tahu saya nge-fans berat pada Seno, dan Seno ternyata pernah berkunjung ke rumahnya — duh, iri aku :-D.

Suatu kali lukisan itu muncul lagi. Keren. Dan saya tercetus ide untuk menulis sesuatu tentang senja di blog ini. Tapi niat itu saya urungkan. Saya pasti akan malu (dan gengsi) kalau orang lain mengomentarinya dengan kalimat seperti ini: “Ciee… Seno banget nih.”

Curang. Seno sialan!! :-))

Sururi

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 18:06 and

Orang selalu menyangka saya dari Makassar. Dari nama depan saya, tentu saja. Nah, kalau “Sururi”, kebanyakan menduga itu nama keluarga. Well, dua-duanya salah.

Tapi saya mulai berpikir menjadikan Sururi sebagai identitas keturunan saya kelak, itupun kalau istri saya setuju, karena dia juga punya hak untuk berkeinginan melestarikan namanya, bukan?

Ngomong-ngomong Sururi, sampai sekarang saya merasa nama ini tergolong langka — hebat juga pilihan bapakku. Sejauh yang saya tahu atau dengar sendiri, baru ada tiga orang lain yang memakai nama tersebut: Pertama, temannya temanku: Kedua, seorang penceramah yang namanya kubaca dari spanduk di Pondok Indah (H. Memet Sururi); Ketiga, aku membacanya juga, tapi lupa di mana.

Sekitar dua tahun lalu pengguna nama ini bertambah lagi — sial, kalau begini terus-terusan bisa-bisa saya tak langka lagi. Orang ini salah satu satpam kantor saya di Warung Buncit.

Sebenarnya saya kenal dia cukup lama dan kami sering ngobrol ala kadarnya. Tapi saya tak pernah menanyakan namanya karena, entahlah, mungkin sungkan. Kulitnya gelap, umurnya kutebak hampir 50, ramah, logatnya Jawa sekali.

Suatu siang kami ngobrol di dekat mushola sambil berdiri dan merokok. Ketika giliran dia bicara, mata saya terantuk pada nama yang tertera di baju seragamnya. Saya tersentak, agak tak percaya.

“Maaf, Pak.. Maaf.. Ini nama Bapak?”
Saya potong pembicaraannya dan menunjuk ke dadanya.
“Lah iya,” dia senyum, tapi mukanya terheran-heran.

Saya tak kuasa menahan tawa, lalu menjulurkan tangan mengajak salaman.
“Hahahaha, nama kita sama, Pak.”

Sururi Senior tertawa kecil, tampangnya entah kenapa kurasakan semakin Jawa. Kami pun bersalaman dan menemukan topik obrolan baru. Sejak itu hubungan kami terasa lebih istimewa, saya rasa, hehehe..

Oya, Sururi diambil dari bahasa Arab yang akar katanya berarti “happy”. Jadi, don’t worry, be Sururi saja lah.. :-D

14 February 2008

Konspirasi Tahu-Tempe

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 13:06 and

Pada suatu malam di sebuah dangau di kampung yang sunyi dan gelap, yang penduduknya tidak boleh menyalakan lampu lebih dari tiga buah per rumah, yang tiap bohlamnya tak boleh lebih terang dari lima watt.

Tahu: Kita berhasil, kawan. Kita sudah mulai jarang dibuat.
Tempe: Kenapa kau bilang berhasil?

“Karena itu artinya kita sudah mulai eksklusif.”
“Apa bedanya? Kita ini cuma tahu dan tempe. Dari dulu sampai kiamat, kita ini ya begini ini.”

“Persis! Justru inilah saatnya kita mengangkat derajat sosial kita.”
“Aku gak ngerti.”

“Jangan terlalu lugu, Kawan. Inilah akibatnya kalau kita terlalu menerima nasib. Kalau kita saja sudah menganggap diri kita kecil, jangan salahkan kalau orang lain melihat kita juga kecil.”

“Tapi orang menyukai kita karena kita ini kecil, toh?”

“Betul. Anggap saja itu ibadah kita buat mereka. Kalau bukan karena kita, mungkin orang-orang miskin itu, yang kantongnya pas-pasan itu, hanya bisa makan nasi campur garam, tanpa lauk-pauk. Kita ini semacam pahlawan untuk perut mereka.”

“Huss! Jangan terlalu sinis. Banyak kok orang kaya yang doyan kita juga.”

“Betul. Tapi doyan tanpa kebanggaan. Tidakkah kamu lihat, mereka lebih berbinar-binar menyuguhi tetamu mereka dengan ayam, daging, telur, atau ikan? Jika mereka terpaksa hanya menyuguhkan kita, maka mereka akan bilang ‘seadanya saja lho‘, atau ‘maaf, cuma ini‘. ini jelas penghinaan buat kita.”

“Wajar bukan? Teman-teman kita itu ‘kan memang lebih hebat.”

“Tapi mereka munafik. Kita didaulat sebagai makanan khas negeri ini. Kita diberlakukan dari Sabang sampai Merauke. Semua bilang kita makanan penuh gizi, bebas kolesterol. Tapi … kita ini ditaruh di bagian bawah pada daftar menu-menu restoran. Percayalah, kita adalah pilihan terakhir buat mereka, kalau perlu dibeli dengan uang kembalian.

“Lantas mau kamu bagaimana?”

“Aku mau kita lebih dihargai. Kalau kita dianggap sebagai simbol cita rasa negeri ini, tunjukkanlah respek. Kita mesti didudukkan di tempat yang lebih tinggi, lebih terhormat. Aku mau kita lebih eksklusif!”

“Jadi, kamu setuju harga kedelai melonjak naik?”

“Betul, biar orang kaya bangga membeli kita. Kamu tahu ‘kan, yang lebih mahal selalu dianggap lebih baik, lebih bermutu. Setidaknya, lebih bergengsi.”

“Terus, bagaimana ibadah kita untuk orang-orang kecil itu?”

“(diam sejenak). Apa boleh buat, untuk sementara biarlah singkong, ubi, tiwul, dan kangkung yang melakukannya.”

“Kamu gila.”

6 February 2008

WC

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 07:16 and

Saya sih percaya-percaya saja kalau banyak pemikiran brilian di dunia ini, ide hebat seseorang, gagasan cemerlang, sampai kebijakan politik yang menyangkut nasib orang banyak tergali dari lubang wc.

Saya berani bertaruh bahwa hanya sebagian kecil orang masuk wc hanya untuk nongkrong di atas kakus selama tiga sampai lima menit dan tidak berpikir apa-apa, kecuali fokus pada pikiran dan tenaga untuk menurunkan isi tubuhnya lewat saluran paling bawah.

Orang-orang macam itupun mungkin melakukannya karena terjebak pada kondisi tertentu: sakit diare yang menyiksa; buru-buru karena harus melakukan aktivitas yang lain: atau takut pintu digedor orang lain yang juga sudah kebelet.

Nah, kalau melakukannya dengan keadaan kosong, tenang, khidmat, tanpa beban dan gangguan berarti, niscaya aktivitas di dalam wc lebih dari sekadar membuang benda paling menjijikkan yang pernah bersemayam di dalam tubuh kita.

Saya pernah membaca pengakuan seorang musisi yang sering mendapat ide bikin lagu saat berdiam diri di dalam wc. Ia juga bisa menjadi tempat sembunyi paling efektif. Teman saya juga pernah ngumpet hampir setengah jam di toilet gara-gara takut rencana backstreet-nya dengan teman sekantor ketahuan. Saking lamanya menunggu situasi aman, ia mengisi waktu dengan (memaksakan) buang hajat. Ada-ada saja.

Beberapa aktivitas lain yang cukup standar dilakukan para pupper adalah membaca dan merokok. Tapi yang paling asyik tentu saja melamun dan berkhayal. Menurut saya ini pengalihan yang bagus karena aroma tak sedap dan gumpalan-gumpalan kuning tidak mendominasi isi ruangan yang sempit.

Kesimpulannya, banyak yang bisa dilakukan orang pada saat melakukan ritual di dalam wc, termasuk mendramatisir keadaan. Terbayangkah Anda, misalnya, sewaktu menerima SMS yang berbunyi: “Honey, I’m thinking of you”, padahal pesan itu dikirimkan pacar Anda ketika dia sedang ngeden! Tapi tidak apa-apa toh? Kalau sudah cinta, kotoran sendiri juga bisa berasa coklat bukan?

Sebagai penutup, asal tahu saja, ide membuat postingan semacam ini pun tercetus ketika saya sedang duduk di atas kloset.

Ini Bukan Akting

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 00:48 and

Seorang aktor amatiran tengah diwawancarai seorang wartawan gadungan.

WG: Punya aktor atau aktris favorit?
AA: Daniel Day Lewis, John Travolta, Al Pacino, Sean Penn, Val Kilmer, Robin Williams, Jim Carey.

WG: Yang wanita?
AA: Tidak ada yang fanatik. Tergantung karakternya di film tertentu.

WG: Ada contoh?
AA: Elizabeth Shue di film The Saint; Vera Farmiga di film Dummy.

WG: Apa yang menarik dari karakter mereka di sana?
AA: Lembut, santun, sederhana. Cantik, tentu saja.

WG: Aktor lokal?
AA: Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja.

WG: Oke, ini mulai serius. Kapan Anda merasa mulai berbakat berakting?
AA: Umur sembilan tahun. Saya berkali-kali mampu meyakinkan ibu saya waktu pura-pura menangis. Disangkanya saya menangis betulan. Habis itu dia jengkel.

WG: Suka duka biasa berakting?
AA: Sukanya, bisa bikin orang lain surprise. Dukanya, suka dicap palsu.

WG: Kapan Anda merasa gagal saat berakting?
AA: Ketika orang lain bilang, ”akting banget sih!”

WG: Kapan Anda merasa berhasil dalam berakting?
AA: Kalau lawan bicara saya tersenyum dan berkata, ”akting yang bagus!”

WG: Akting paling mudah?
AA: Menyikapi luar biasa sesuatu yang biasa-biasa saja.

WG: Maksudnya?
AA: Saya cenderung hiperbola.

WG: Akting paling sulit?
AA: Berlaku biasa pada sesuatu yang sesungguhnya luar biasa.

WG: Bisa lebih spesifik?
AA: Saya sedang jatuh cinta tapi di depan dia harus bersikap seolah-olah tidak mendambakannya. Saya sedang rindu tapi harus berlagak tidak memperhatikan dia.

WG: Dalem banget nih kayaknya.
AA: Saudara tidak percaya?

WG: Omongan Anda itu… serius atau hanya akting?
AA: !!!

Janji Jono

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 00:31 and

Panji kepada Jono: “Tau gak, Jon, si Rizal tuh pantatnya burikan. Tapi janji ya, jangan bilang siapa-siapa.”

Jono kepada Sri: “Aku bilang ini ke kamu aja lho, Sri. Hm… si Rizal itu pantatnya ternyata burikan.”

Sri kepada Nurhayati: “Ada gosip seru, Nur. Pantat si Rizal burikan! Hahahaha… Tapi cukup kita doang yang tau ya. Janji lho.”

Nurhayati kepada Toni: “Kasihan Rizal, pantatnya burik. Masak kamu belum tau? Waduh, aku keceplosan ngomong nih. Kalo ada yang tanya, kamu jangan bilang tau dari aku ya. Gak enak nih, aku dah janji.”

Toni kepada Tono: “Sori Ton, gue gak bisa ngomong. Gue gak mau jadi ember. Lo maksa pengen tau? Ng… gimana ya. Oke deh, tapi lo jangan ngomong ke siapa-siapa ya. Janji? Oke. Si Rizal itu pantatnya burikan.”

Tono kepada Wati; Wati kepada Iwan; Iwan kepada Junaidi: Junaidi kepada Riko; Riko kepada Yuni; Yuni kepada Joe: “Jangan bilang siapa-siapa ya, si Rizal pantatnya burikan!”

Janji, janji, janji. Everybody lies.

Aku Tak Ingin Anakku Jadi Petani

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 00:17 and

Apa yang dikatakan gurumu di sekolah masih benar, Nak. Bangsa ini bangsa agraris, tanahnya subur makmur. Tapi Bapak tidak mau kau main-main di sawah, apalagi berkeinginan jadi petani.

Tak jadi soal jika kulitmu menggelap dibakar matahari, tapi kalau jerih payah keringatmu juga menguap di udara, tujuh turunan kita Bapak tidak rela.

Bertani hanya membuatmu jadi tukang sedekah. Apa yang kau tuai tidak akan pernah sebanding dengan kesetiaanmu memimpikan panen, Nak, menjaga padimu dari usikan tikus, ular, burung, hama. Dan kau menantinya dengan harap-harap cemas, takut musim hujan berkepanjangan atau musim kemarau kelamaan.

Menjadi petani hanya memberimu kekuasaan atas cangkul dan cacing, Nak. Tapi kau selalu terbajak dengan pupuk dan pestisida. Harga gabahmu hanya jadi bualan di atas kertas, nilai kerjamu cuma dicatat oleh para tengkulak.

Sudahlah, Nak, tak perlu kau buang habis tenagamu untuk memberi makan orang lain. Mengapa kamu masih berbaik sangka bahwa mereka masih punya waktu buat memikirkan nasibmu. Di negeri ini orang-orang sepertimu tidaklah kelihatan.

Petani bukan kaum istimewa, Nak. Jika kau sakit, bukan ambulans dan dokter yang akan didatangkan kepadamu, tetapi perahu-perahu tongkang pengangkut beras impor dari Vietnam dan Thailand.

Jadilah apa saja asal jangan petani. Petani tidak abadi, Nak, tidak seperti cinta kita pada angin, air, tanah, udara.

Berpikirlah Positif… atau Terimalah Kenyataan Pahit

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 00:16 and

Ah, itu isu, baru kabar burung. Jangan percaya. Amit-amit kalau kau lekas terpengaruh. Itu tidak mungkin, mustahil begitu adanya. Kenapa tidak berpikir sebaliknya? Siapa tahu yang benar itu demikian.

Apa tidak sebaiknya kau tunggu dulu perkembangannya besok-besok? Cari tahu sendiri sajalah. Bukankah rasa penasaranmu tinggi?

Barangkali yang sesungguhnya itu bukanlah yang kau dengar barusan. Sekarang coba pikir lebih rasional, masuk akal tidak? Logiskah menurutmu? Masak sih kau mau menelan semuanya begitu saja?

Kenapa mesti fanatik pada omongan orang lain? Pendapat mereka bisa salah, bukan? Aku pun bisa keliru mengucapkan ini.

Kok bengong? Kenapa jadi kayak tidak yakin begitu, heh?

generiert in 0.286 Sekunden. | Powered by WordPress.