Senin siang. Aku duduk-duduk di bangku ruang depan. Seekor kupu-kupu hitam-putih melayang-layang di depan pintu.
“Selamat siang,” ia menyapaku.
Aku malas menjawab, sedang malas berbasa-basi. Tapi kugerakkan juga sedikit letak bibirku biarpun terpaksa.
“Aku suka langit-langit rumahmu,” kupu-kupu hitam-putih bicara lagi.
“Terima kasih.” Kata-kata pertamaku muncul.
Kupu-kupu hitam-putih menunggu kata-kata yang lain, tapi tak mendapatkan apa-apa. Ia pun berbalik badan, mempercepat kepakan-kepakan sayapnya, lalu meninggalkanku.
**
Senin siang berikutnya. Aku selalu suka duduk-duduk di bangku ruang depan. Seekor kupu-kupu merah-biru muncul di depan pintu.
“Selamat siang,” ia menyapaku.
“Selamat siang,” aku menjawab.
“Aku suka langit-langit rumahmu,” ia melanjutkan.
“Kenapa?” aku sedikit terhenyak, ingat sesuatu.
“Boleh aku ke sana?” Ini bukan jawaban pertanyaan tadi.
“Sebaiknya jangan. Aku tidak mau ada keributan.”
Kupu-kupu merah-biru lalu pergi. Matanya merah, hatinya membiru, kurasa.
**
Senin siang berikutnya lagi. Aku telat sepuluh menit dari jadwalku duduk-duduk di bangku ruang depan. Belum sempat tembakau kubakar, dari atas kepalaku terdengar suara:
“Selamat siang. Aku suka langit-langit rumahmu dan tak kuasa untuk tidak singgah di sini.” Seekor kupu-kupu kuning-hijau kulihat menggelantung di sana.
“Sebaiknya kamu lekas pergi.” Aku mengatakannya sambil bangkit dari kursi, dan membukakan pintu. Kupu-kupu kuning-hijau tak membantah, melayang turun dan beranjak.
**
Senin siang berikutnya lagi. Aku tidak mungkin duduk-duduk di bangku ruang depan. Ada ribuan kupu-kupu hinggap di langit-langit rumahku. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, coklat, oranye, ungu, abu-abu.
***
