Menulis dan Istriku
Tulisan ini tak kelar-kelar. Mandek di alinea kelima.
Tiba-tiba aku tak tahu harus menulis apa lagi, apa yang kira-kira luput dibahas oleh penulis-penulis lain dalam ratusan artikel yang sudah lebih dulu terpublikasi di mana-mana itu, termasuk oleh blogger-blogger yang bebas, atau lewat time line pendek para seleb tweet.
Masalah yang satu ini memang tidak kelar-kelar, walaupun sempat dikira akan selesai beberapa bulan lalu. Ternyata tidak, dan masalahnya kembali lagi seperti ketika masalah itu mulai dipermasalahkan oleh seluruh masyarakat Indonesia beberapa belas bulan yang lalu.
Orang-orang kita memang lucu, sekaligus menyebalkan. Masalah ini menjadi sangat menjengkelkan, juga menyedihkan. Tak ada yang baru, tapi seakan-akan baru, atau dibuat seolah-olah baru. Sialnya, aku harus menuliskan itu (lagi), berkali-kali pula, sampai-sampai aku tak tahu kapan harus berhenti menuliskannya –biarpun ratusan orang sudah menulisnya pula.
Aku melirik penunjuk waktu di bagian bawah layar laptop. Sudah mau jam 1 malam. Ada yang menyuruhku memutar badan, mengingatkanku pada sesuatu. Istriku. Dia rupanya sudah tertidur, dan, ya Tuhan, aku bahkan tidak tahu dari jam berapa.
Tiba-tiba aku disergap rasa bersalah yang amat sangat. Istriku selalu setia membukakan pintu menyambut kepulanganku walaupun sampai tengah malam. Pekerjaan ini, masalah itu, begitu menyita tenagaku, waktuku … dan waktu dia.
Dia sesekali protes tapi tidak sampai mengeluh. Malahan dia tetap melayani kepenatanku dari urusan pekerjaan ini dan masalah itu. Dia pula yang memaksaku untuk mengambil cuti dua hari ini untuk sejenak beristirahat di tempat yang agak jauh.
“Biar kamu lupa,” katanya sambil memegang kedua pipiku dengan senyum, sembari menyodorkan tiket untuk kami terbang ke Singapura.
Sungguh celaka aku. Di lantai sembilan kamar hotel ini aku masih saja terseret nafsu untuk menulis masalah yang tidak pernah kelar itu, dan melupakan niat baik istriku ini.
Kulempar pandangan beberapa saat ke luar jendela. Marina Bay begitu cantik dengan lampu-lampunya. Ini benar-benar celaka.
Segera kumatikan laptop. Peduli amat dengan tulisan yang tak jadi-jadi ini. Aku beringsut ke atas tempat tidur, berharap istriku tidak terbangun oleh gerakanku, walaupun aku ingin juga dia tahu bahwa aku sudah menghentikan pekerjaanku yang tak penting itu. Tapi istriku terlalu baik dan cantik untuk kupotong kenikmatan tidurnya.
Sekarang aku sudah berbaring di samping istriku. Dalam hati aku berjanji, besok pagi aku akan menghabiskan waktu dan pikiran bersama dia saja, sampai liburan singkat di negeri liliput ini selesai.



