Pada Suatu Ketika

17 December 2011

Menulis dan Istriku

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 22:58 and

Tulisan ini tak kelar-kelar. Mandek di alinea kelima.

Tiba-tiba aku tak tahu harus menulis apa lagi, apa yang kira-kira luput dibahas oleh penulis-penulis lain dalam ratusan artikel yang sudah lebih dulu terpublikasi di mana-mana itu, termasuk oleh blogger-blogger yang bebas, atau lewat time line pendek para seleb tweet.

Masalah yang satu ini memang tidak kelar-kelar, walaupun sempat dikira akan selesai beberapa bulan lalu. Ternyata tidak, dan masalahnya kembali lagi seperti ketika masalah itu mulai dipermasalahkan oleh seluruh masyarakat Indonesia beberapa belas bulan yang lalu.

Orang-orang kita memang lucu, sekaligus menyebalkan. Masalah ini menjadi sangat menjengkelkan, juga menyedihkan. Tak ada yang baru, tapi seakan-akan baru, atau dibuat seolah-olah baru. Sialnya, aku harus menuliskan itu (lagi), berkali-kali pula, sampai-sampai aku tak tahu kapan harus berhenti menuliskannya –biarpun ratusan orang sudah menulisnya pula.

Aku melirik penunjuk waktu di bagian bawah layar laptop. Sudah mau jam 1 malam. Ada yang menyuruhku memutar badan, mengingatkanku pada sesuatu. Istriku. Dia rupanya sudah tertidur, dan, ya Tuhan, aku bahkan tidak tahu dari jam berapa.

Tiba-tiba aku disergap rasa bersalah yang amat sangat. Istriku selalu setia membukakan pintu menyambut kepulanganku walaupun sampai tengah malam. Pekerjaan ini, masalah itu, begitu menyita tenagaku, waktuku … dan waktu dia.

Dia sesekali protes tapi tidak sampai mengeluh. Malahan dia tetap melayani kepenatanku dari urusan pekerjaan ini dan masalah itu. Dia pula yang memaksaku untuk mengambil cuti dua hari ini untuk sejenak beristirahat di tempat yang agak jauh.

“Biar kamu lupa,” katanya sambil memegang kedua pipiku dengan senyum, sembari menyodorkan tiket untuk kami terbang ke Singapura.

Sungguh celaka aku. Di lantai sembilan kamar hotel ini aku masih saja terseret nafsu untuk menulis masalah yang tidak pernah kelar itu, dan melupakan niat baik istriku ini.

Kulempar pandangan beberapa saat ke luar jendela. Marina Bay begitu cantik dengan lampu-lampunya. Ini benar-benar celaka.

singapura

Segera kumatikan laptop. Peduli amat dengan tulisan yang tak jadi-jadi ini. Aku beringsut ke atas tempat tidur, berharap istriku tidak terbangun oleh gerakanku, walaupun aku ingin juga dia tahu bahwa aku sudah menghentikan pekerjaanku yang tak penting itu. Tapi istriku terlalu baik dan cantik untuk kupotong kenikmatan tidurnya.

Sekarang aku sudah berbaring di samping istriku. Dalam hati aku berjanji, besok pagi aku akan menghabiskan waktu dan pikiran bersama dia saja, sampai liburan singkat di negeri liliput ini selesai.

1 December 2011

Aku Jatuh Cinta

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 18:21 and

Aku jatuh cinta pada perempuan yang tak kuingat lagi namanya, telah memudar bayangan wajahnya, lenyap tak berbekas jejaknya, entah di mana pernah bertemu dan kapan, dan kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Aku cuma tahu, aku jatuh cinta padanya.

30 August 2011

Idul Fitri ”atawa” Lebaran

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 19:58 and

Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya, ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa selama satu bulan.

Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, ”barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya”.

Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita yang langsung kepada Allah telah diampuni oleh-Nya, bukan berarti semua dosa telah tuntas diampuni.

Ada dosa-dosa lain yang—paling tidak menurut saya—lebih gawat dan sulit, yaitu dosa-dosa kepada sesama. Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Allah jauh dengan lebih ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Dosa kita kepada-Nya, sebesar apapun jika disesali dan kita mohonkan ampun, akan diampuni-Nya. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristighfar menghapus dosa; bersembahyang menghapus dosa; berbuat baik menghapus dosa; dan banyak lagi.

Berbeda dengan manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kekhilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.

Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan waswas atau menimbulkan masalah di antara kita. Sementara terhadap sesama manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan gawatnya dosa antarsesama.

Kita tidak boleh hanya mengandalkan amal ibadah ritual, sementara secara sosial kita tidak berlaku hati-hati terhadap sesama. Tidak sedikit di antara kita orang tertipu, tanpa sadar, karena telah bersembahyang, berpuasa, berzakat, dan berhaji, merasa diri sudah dekat dengan Allah, bahkan ada yang keterlaluan merasa diri wakil-Nya, lalu seenaknya memperlakukan sesama hamba Allah. Dengan mudah mencaci maki, memukul, menuduh, melukai, merampas hak, dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.


*) Dari artikel dengan judul yang sama oleh A. Mustofa Bisri alias Gus Mus di Kompas, Sabtu 21 Oktober 2006.

24 August 2011

Selalu Begini Setiap Mau Lebaran

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 08:13 and

Katanya, puasa adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang berlebihan. Tapi selalu begini setiap petang: meja makan penuh dengan aneka rupa makanan, yang bahkan tak pernah ada di hari-hari lainnya.

Katanya, puasa adalah menahan lapar dan haus agar sesekali merasakan apa yang biasa dirasakan kaum miskin dan susah. Tapi, selalu begini setiap beduk magrib dipukul: mulut tak henti-hentinya mengunyah, perut terus diforsir untuk mencerna.

Katanya, hari-hari terakhir puasa adalah waktu paling istimewa untuk berdiam diri di rumah-rumah Tuhan, melarutkan diri dalam keasyikan mengingat-Nya, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Tapi, selalu begini setiap menjelang Lebaran: jalanan macet di mana-mana, orang berdesak-desakan di pasar, berebut masuk pertokoan, mendekam sampai malam, menguras pikiran dan keringatnya di sana.

Pernahkah kita benar-benar menang?

5 July 2011

Hujan Salju

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 12:41 and

Hujan salju yang sudah turun di bulan Oktober
Memutihkan jalanan kumal di depan rumah
Mengubur kesombongan yang berserakan di tanah

Nyalakan pemanasnya
Musim sudah berganti

snowfall

28 June 2011

Menagih Janji Sehidup Semati

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 17:57 and

“Apakah aku memperlakukanmu dengan baik?”
“Perlakuan darimu adalah yang terbaik yang pernah kudapati dari orang-orang yang kukenal.”
“Bisa di sisiku selalu?”
“Aku masih di sini bukan?”
“Walau bintangku tak terang?”
“Kamu tetap bintangku.”
“Walau aku jatuh miskin nanti?”
“Asalkan kamu tidak menyerah.”
“Walau aku sulit naik jabatan?”
“Yang penting kamu tidak korupsi.”
“Walau nanti aku tak bisa memberimu keturunan?”
“Kesetiaanmu lebih kuharapkan.”
“Walau aku nanti jelek?”
“Wajahku juga biasa-biasa saja toh.”
“Walau aku akan jadi botak sebelum umur 50?”
“Sudah, sudah. Mengerikan sekali membayangkan itu semua.”

9 June 2011

Episode yang Melelahkan

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 17:57 and

Pernahkah kau begitu takut menutup mata, sekalipun sudah begitu mengantuk, karena begitu kau menutup mata, maka yang tampak dalam gelapnya pandangan hanyalah bayang-bayang yang amat menakutkan.

Bayangan itu datang dengan sendirinya, dihadirkan oleh otak yang menimbulkan pikiran-pikiran hitam. Ia tidak ada dalam wujud nyata, tapi kehadirannya sungguh terasa, begitu bertenaga, sampai-sampai sanggup membuka mata yang telah mengatup sekalipun.

Kadang-kadang bayang-bayang itu disertai tekanan ke jantung, yang membuat darah dipompa lebih cepat. Dan terjadilah percepatan dalam bernafas, tersengal-sengal seperti dikejar hantu, atau udara itu bahkan tak masuk dalam paru-paru: seperti asma.

Hanya lelah yang membuat kita pada akhirnya terlelap dan selamat untuk sejenak. Hanya sesaat.

4 March 2011

Abai nan Lebay

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 00:49 and

“Pulanglah segera. Pagar rumahmu kebakaran.”

“Oh ya? Nanti deh, toh baru pagar ‘kan.”

“Tapi sekarang apinya mulai ke teras.”

“Ntar ya, ini lagi tanggung. Teras rumah saya luas kok.”

‘Itu mulai ke ruang tengah … ”

“Oh gitu ya, tapi saya sedikit lagi nih … ”

Kemudian.

“Ok, sampai di mana apinya?”

“Sudah padam.”

“Syukur lah.”

“Tapi rumahmu juga sudah habis.”

3 February 2011

Kumis

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 01:52 and

Sesungguhnya saya betul-betul tidak tahu apa fungsi kumis di atas mulut laki-laki dewasa. Jika ada gunanya, berarti Tuhan tidak adil karena banyak laki-laki tidak diberi-Nya (bakat) kumis.

Tapi, sepertinya ada sebuah mistis dari sebaris kumis. Paling tidak, itu sebabnya diciptakan ribuan jenis ramuan, dari tetumbuhan sampai jeroan binatang, untuk menumbuhkan kumis, buat orang-orang yang merasa “tidak lengkap” tanpa bulu-bulu lebat di bawah hidungnya.

Apakah memang ada sebuah mistis dari kumis, saya juga tidak tahu. Yang sering saya dengar, banyak wanita katanya merasa geli-geli senang kalau dicium suami atau pacarnya yang berkumis.

Tapi kumis adalah sebuah simbol, pencitraan, atau bagian dari identitas diri. Bagaimana filosofinya, sekali lagi saya tidak tahu. Soal ini, tanyakan pada komedian Oppie Kumis, Asmuni, Charlie Caplin, atau Bang Udin Kumis yang biasa berjualan sate atau soto betawi di pinggir jalan.

Kalau berani, silakan datangi kuburan Adolf Hitler juga. Silakan bertanya, apakah dia ditakuti dunia semata-mata karena hebat, angker, digjaya, atau sesungguhnya lantaran kumisnya yang sejumput itu.

Meski begitu, anehnya, kumis juga bisa menjadi kambing hitam atas sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali. Beberapa waktu lalu, ketika Jakarta dilanda banjir, Gubernur Fauzi Bowo habis-habisan dikecam karena ketidakmampuannya mengatasi masalah ini — dan ada saja yang menyerangnya secara “fisik” di twitter dengan kata-kata: “kumis aja digedein!” atau “potong kumisnya sekarang juga!”

… seakan-akan kumis adalah sebuah penyebab. Lucu juga.

kumis

Pengawal Dua Kerajaan

Filed under: Tak Berkategori — andias @ 01:24 and

Namanya Muhammad Ilham. Kulitnya legam, bulu-bulu memenuhi wajahnya. Matanya, begitulah, membuatku tak berani lama-lama menatapnya.

Dia bilang, dulu ia penjaga gunung. Sekarang, katanya, ia pengawal lautan. Pergantian yang memukau. Keberanian. Cemburu aku mendengar kisah pendeknya. Manusia oh manusia.

Dari gunung dia tak pernah melupakan bau pepohonan, irama dedaunan, angin dingin dan kabut misterius, yang telah memberinya setengah jalan dalam hidupnya—tapi ia akan meneruskan setengah perjalanannya bersama lautan.

Kulihat lautan kini telah membangun jiwanya. Kokoh; Kurasa ia meniru batu karang. Sorot matanya tajam penuh gelora; kupikir ia belajar dari gelombang pasang.

Dia menitipkan sesuatu kepadaku sebelum kami berpisah. Katanya, ”Ini hanya untuk Anda, tidak untuk yang lain. Tolong jaga.”

Aku sedikit bergidik mendengarnya. Kubuka telapak tanganku. Inikah mutiara dari dasar samudera? Aku setengah tak yakin, tapi diam-diam mengiyakan permintaan laki-laki asing itu.

mountain-ocean

Next Page »

generiert in 0.390 Sekunden. | Powered by WordPress.