Tampaknya, di hari raya ini, dada orang-orang terasa lebih lapang. Orang yang paling keras sekalipun, dalam suasana Lebaran, tiba-tiba mudah meminta maaf dan memaafkan. Hal ini boleh jadi karena bagi kaum Muslim khususnya, ada rasa plong, terlepas dari dosa-dosa hasil ketulusan mereka berpuasa selama satu bulan.
Memang ada hadis Nabi SAW yang menyatakan, ”barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan semata-mata karena iman dan hanya mengharap ganjaran Allah, orang itu akan diampuni dosanya yang dilakukan sebelumnya”.
Namun, kesalahan yang dilakukan manusia bisa kepada Tuhan, bisa juga kepada sesama hamba, dan ini rupanya amat disadari para pendahulu kita yang mula-mula mentradisikan silaturahmi Lebaran. Dengan asumsi dosa-dosa kita yang langsung kepada Allah telah diampuni oleh-Nya, bukan berarti semua dosa telah tuntas diampuni.
Ada dosa-dosa lain yang—paling tidak menurut saya—lebih gawat dan sulit, yaitu dosa-dosa kepada sesama. Jika dicermati, sebenarnya pergaulan dengan Allah jauh dengan lebih ketimbang dengan manusia. Allah Maha Pengampun. Dosa kita kepada-Nya, sebesar apapun jika disesali dan kita mohonkan ampun, akan diampuni-Nya. Lembaga pengampunan-Nya banyak sekali. Beristighfar menghapus dosa; bersembahyang menghapus dosa; berbuat baik menghapus dosa; dan banyak lagi.
Berbeda dengan manusia. Salah sedikit marah, bahkan sering kekhilafan yang tidak disengaja pun sulit dimaafkan. Untuk meminta maaf atau memaafkan, orang memerlukan timing tertentu seperti Lebaran ini.
Anehnya, terhadap Allah Yang Begitu Baik, kita justru begitu berhati-hati, bahkan sering berlebihan hingga menimbulkan waswas atau menimbulkan masalah di antara kita. Sementara terhadap sesama manusia yang sulit, kita sering sembrono dan seenaknya. Padahal, banyak dalil naqli yang menyebutkan gawatnya dosa antarsesama.
Kita tidak boleh hanya mengandalkan amal ibadah ritual, sementara secara sosial kita tidak berlaku hati-hati terhadap sesama. Tidak sedikit di antara kita orang tertipu, tanpa sadar, karena telah bersembahyang, berpuasa, berzakat, dan berhaji, merasa diri sudah dekat dengan Allah, bahkan ada yang keterlaluan merasa diri wakil-Nya, lalu seenaknya memperlakukan sesama hamba Allah. Dengan mudah mencaci maki, memukul, menuduh, melukai, merampas hak, dan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.
*) Dari artikel dengan judul yang sama oleh A. Mustofa Bisri alias Gus Mus di Kompas, Sabtu 21 Oktober 2006.